China Rem Perang Harga Mobil, Diskon Ekstrem Mulai Dibatasi

Pemerintah China semakin serius menertibkan perang harga mobil di dalam negeri. Otoritas pengawas pasar mengusulkan aturan baru yang membatasi diskon ekstrem, sebagai sinyal pengawasan yang lebih ketat terhadap persaingan berlebihan di industri otomotif.
Melalui pedoman yang diumumkan Jumat malam, Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar mengusulkan larangan bagi produsen menjual mobil di bawah biaya produksi, serta membatasi dealer menawarkan diskon atau rabat yang membuat harga jual jatuh di bawah ongkos produksi.
Kebijakan ini langsung berdampak ke pasar saham. Saham BYD dan sejumlah produsen EV China melemah pada Senin, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap tekanan regulasi baru. Selama ini, banyak merek mengandalkan diskon agresif untuk menjaga penjualan di tengah permintaan yang melambat.
Padahal, lebih dari enam bulan lalu pemerintah sudah memperingatkan produsen soal praktik “adu cepat” yang merusak kesehatan industri. Namun faktanya, harga mobil terus turun, didorong oleh lemahnya permintaan dan kelebihan kapasitas produksi.
“Beberapa merek memanfaatkan skala produksi besar untuk merebut pasar, dan itu justru memperparah perang harga,” ujar Li Yanwei, penasihat Asosiasi Dealer Mobil China.
Pengetatan ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menekan fenomena “involution”, yaitu hiperkompetisi yang membuat keuntungan industri semakin menipis meski persaingan makin sengit.
Data menunjukkan tekanan harga masih berlanjut. Harga transaksi rata-rata BYD turun dari 116.200 yuan pada Juni menjadi 108.100 yuan pada Oktober. Di saat yang sama, insentif negara untuk pembelian EV mulai dikurangi, membuat posisi produsen dan dealer semakin terjepit.
Saham BYD tercatat turun 1,7% di Hong Kong, sementara Nio, Xiaomi, dan Leapmotor juga ikut terkoreksi. Menurut analis Macquarie, investor kini semakin sadar bahwa tekanan regulasi menjadi salah satu faktor utama pelemahan saham otomotif China.
Di sisi lain, saham dealer mobil justru menguat, karena aturan ini berpotensi mengurangi tekanan dari produsen untuk memberikan diskon besar demi mengejar target penjualan. Namun analis Morgan Stanley mengingatkan, menaikkan harga ke konsumen tetap sulit selama permintaan masih lemah, terutama untuk mobil bermesin konvensional.
Aturan ini masih dibuka untuk masukan publik hingga 22 Desember, sekaligus menargetkan praktik kolusi dan memperketat pengawasan harga. Mulai tahun depan, produsen juga diwajibkan mengantongi izin ekspor EV untuk menekan praktik “mobil nol kilometer” yang kerap dipakai demi menggelembungkan angka penjualan.
Seiring pengawasan yang makin ketat, sejumlah produsen mulai mengubah strategi, mengurangi diskon langsung dan menggantinya dengan penawaran nilai tambah agar tetap menarik di mata konsumen.